Malaysia dan Timor-Leste Percepat Pengembangan FPSO dan Lapangan Migas Offshore
Limbayong mencapai keputusan investasi, BIGST mengembangkan solusi penangkapan karbon, sementara Kuda Tasi/Jahal bersiap memanfaatkan kembali FPSO Petrojarl I. Pengembangan proyek minyak dan gas lepas pantai Asia Tenggara terus bergerak sepanjang 2026. Selain Indonesia, Malaysia dan Timor-Leste mencatat sejumlah kemajuan penting dalam pengembangan lapangan offshore, terutama yang menggunakan fasilitas produksi terapung.
>>Limbayong: FID Disetujui, FPSO Silinder Disiapkan PETRONAS Carigali melanjutkan pengembangan Lapangan Limbayong di perairan laut dalam Sabah, Malaysia, setelah proyek tersebut dilaporkan memperoleh Final Investment Decision (FID) pada 28 Agustus 2026. Proyek ini direncanakan menggunakan fasilitas FPSO berbentuk silinder yang terhubung dengan sepuluh sumur produksi bawah laut. TechnipFMC tercatat terlibat dalam pengembangan sistem produksi subsea. Limbayong menjadi salah satu proyek laut dalam penting Malaysia karena menggabungkan pengembangan sumur bawah laut dengan fasilitas pengolahan dan penyimpanan minyak terapung.
>>BIGST Cluster: Pengembangan Gas dengan Teknologi Penangkapan Karbon Di Semenanjung Malaysia, PETRONAS Carigali bersama ENEOS Xplora mengembangkan BIGST Cluster, yang mencakup lima lapangan gas: Bujang, Inas, Guling, Sepat, dan Tujoh. Proyek ini menghadapi tantangan kandungan karbon dioksida yang tinggi pada sumber daya gasnya. Karena itu, rencana pengembangan dua tahap turut memasukkan solusi carbon capture and storage (CCS). Dalam PETRONAS Activity Outlook 2026–2028, perusahaan menyatakan bahwa inisiatif dekarbonisasi BIGST terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menurunkan emisi kegiatan operasional.
>>Puteri Cluster: Jadestone Melanjutkan Evaluasi Pengembangan Jadestone Energy melanjutkan kajian teknis untuk pengembangan kembali Puteri Cluster di perairan Malaysia. Aset ini mencakup lapangan Penara, Puteri-Padang, dan North Lukut. Jadestone memiliki 100% kepentingan kerja dan bertindak sebagai operator. Perusahaan masih mengevaluasi kelayakan pengembangan sebelum mengambil keputusan mengenai pengajuan rencana pengembangan lapangan kepada PETRONAS.
Dengan demikian, Puteri Cluster masih berada pada tahap penilaian teknis dan belum dapat disamakan dengan proyek yang telah memperoleh keputusan investasi akhir.
>>Kuda Tasi/Jahal: Persetujuan Lingkungan Membuka Jalan Menuju FID Di Timor-Leste, Finder Energy memperoleh persetujuan Field Development Plan pada Juli 2026 untuk proyek Kuda Tasi dan Jahal di Laut Timor. Perkembangan berlanjut pada September 2026 ketika otoritas perminyakan Timor-Leste menyetujui dokumen kajian dampak lingkungan proyek. Pengembangan direncanakan menggunakan kembali FPSO Petrojarl I, yang akan dihubungkan dengan sumur produksi bawah laut. Target produksi awal diperkirakan sebesar 25.000–40.000 barel minyak per hari. Persetujuan rencana pengembangan dan lingkungan menjadi dasar penting bagi proyek untuk melanjutkan penyelesaian aspek komersial dan pembiayaan sebelum FID.
>>Prospek Offshore Asia Tenggara Perkembangan delapan proyek tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan migas offshore Asia Tenggara tidak hanya bertumpu pada penemuan cadangan baru, tetapi juga mencakup pembangunan fasilitas FPSO, pemanfaatan kembali infrastruktur produksi, pengembangan gas laut dalam, serta penerapan teknologi penangkapan karbon. Indonesia, Malaysia, dan Timor-Leste memiliki proyek dengan tingkat kesiapan yang berbeda. Sebagian telah memasuki konstruksi, sebagian memperoleh persetujuan investasi, sementara lainnya masih menjalani evaluasi teknis dan persiapan pengembangan. Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa investasi fasilitas produksi offshore tetap menjadi bagian penting dari pengembangan industri migas Asia Tenggara menuju akhir dekade ini.