|
Investor asing dari tiga negara mengincar proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS). Ketiga investor tersebut berasal dari Malaysia, China, dan Korea Selatan. Demikian disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.
"JSS sudah banyak yang tertarik, saya nggak bisa sebut namanya ya, yang jelas dari Malaysia, China, dan waktu itu juga ada Korea," ujar Djoko.
Sebelumnya, GS Group Construction, salah satu perusahaan konstruksi asal Korea Selatan, tertarik untuk ikut terlibat dalam pembangunan JSS. Mereka juga akan mengajak investor dan kontraktor dari negara lain untuk ikut berpartisipasi.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Deddy Priatna menyatakan saat ini pembangunan proyek tersebut masih terganjal Peraturan Presiden yang sudah berada di Sekretariat Kabinet (sekab). Setelah Prespes tersebut terbit, lanjutnya, proses tender pun dapat terlaksana.
"Sekarang masih tahap Perpres, tender habis ini, tapi nggak tahu juga kapan Perpresnya keluar," ujarnya.
Wakil Menteri PU Hermanto Dardak menyatakan Perpres tersebut sangat dibutuhkan karena proyek JSS merupakan proyek multisektor. "JSS itu karena multisektor disiapkan Perpres khusus. Ini kan nanti ada jembatan, kawasan, sebagai pusat industri, teknologi, pariwisata. Jembatannya di tengah juga ada jalur kereta api, ada utilitas seperti listrik, air baku, telekomunikasi, gas, jadi multifungsi dan ini dipaketkan," jelasnya.
Jika proyek ini bisa tercapai, Hermanto menegaskan rekor jembatan terpanjang pun akan singgah ke JSS. "JSS panjangnya 2,2 km, kalau lebih dari 2 km tandanya terpanjang di dunia," ujarnya.
Proyek ini diharapkan mulai dibangun secara fisik pada 2014 dan menjadi proyek anak bangsa meskipun dari segi pendanaan diperkenankan mendapat bantuan dari asing.
Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.
|