|
Permintaan teh asal Indonesia dari pasar dunia melonjak. Gangguan cuaca di sentra teh dunia rupanya mempengaruhi produksi dan suplai teh di pasar dunia.
Kondisi ini terlihat dalam lelang awal tahun yang digelar Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara (KBP PTPN). "Penyerapan lelang pekan lalu hampir terjual semuanya," kata Dadang Juanda, Ketua Lelang Teh KPB PTPN.
Menurut Dadang, awal tahun ini menjadi awal yang baik bagi KPB PTPN, karena lelang meningkat. Dadang menjelaskan, pemicu kenaikan adalah adanya gangguan produksi yang terjadi di India dan Sri Langka.
Harganya juga naik. Menurut Dadang, dalam lelang teh Rabu pekan lalu (5/1), harga teh untuk jenis orthodox terjual dengan harga US$ 1,93 per kilogram (kg). Harga tersebut lebih tinggi daripada sebelumnya yang berada di level harga US$ 1,65 per kg. "Kenaikan harga mengikuti kenaikan permintaan naik," ujar Dadang.
Harga teh jenis cutting, tearing, curling (CTC) juga terasa manis. Dalam lelang tersebut, teh CTC mencatat harga jual US$ 2,13 per kg. Harga ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga pada lelang sebelumnya yang US$ 1,78 per kg. Dadang memperkirakan, harga ini membaik lagi karena musim dingin di Amerika Serikat dan Eropa. "Musim dingin turut memacu kenaikan permintaan," terangnya.
Indonesia juga telah menggalang kerjasama dengan Sri Langka, produsen teh terbesar di dunia untuk meningkatkan produksi. Bahkan, keduanya telah menyepakati kerjasama yang tertuang dalam letter of intent (LoI). "Pemerintah akan mengkoordinasikan agar kerjasama ini menguntungkan petani teh, dan industri teh nasional," kata Azwar AB, Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kemtan.
Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.
|