|
Setelah pada September turun signifikan hingga 47% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, realisasi volume ekspor kakao pada Oktober diperkirakan menembus 50.000 ton. Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang mengatakan pengenaan bea keluar (BK) sebesar 5% untuk pengapalan pada Oktober mendorong kenaikan volume ekspor pada bulan itu.
Pasalnya bea keluar yang lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 10% mendorong eksportir untuk mengeluarkan stok kakao yang ada.
"BK kakao turun jadi 5% dari sebelumnya 10% pada September. Ini peluang mendapatkan keuntungan yang lebih besar, sehingga banyak eksportir yang akhirnya segera melepas stoknya. Itu sebabnya realisasi volume ekspor untuk Oktober berpeluang menembus 50.000 ton," ujar Zulhelfi.
Terkait dengan penurunan ekspor pada September, dia mengakui hal itu disebabkan oleh tidak adanya masa panen sehingga praktis menyebabkan produksi dalam negeri turun. Selain itu, faktor cuaca menjadi salah satu penyebab karena curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan banyak tanaman cokelat yang busuk dan rontok.
"Jelas produksi turun karena ini, makanya ekspornya juga turun cukup banyak. November-Desember juga akan seperti itu, kecuali Oktober yang agak aneh akibat ada kenaikan drastis volume ekspornya karena bea keluar yang rendah sebesar 5% dibandingkan dengan sebelumnya padahal tidak musim lagi," jelasnya.
Zulhelfi mengatakan kinerja ekspor kakao pada Oktober lebih ditopang karena faktor volume. Sementara dari segi harga relatif stabil di kisaran US$ 2.700-US$ 3.000 per ton.
Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.
|