|
Rencana pembangunan megaproyek mass rapid transit (MRT) bakal ditentukan 19 Agustus mendatang. Pasalnya, sebelum proyek digeber, pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Corporation Agency) memberi sinyal hijau sekaligus memastikan apakah seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan telah siap. Meliputi pembebasan lahan, kelayakan jalur berikut perkiraan jumlah penumpangnya apakah memenuhi syarat atau tidak serta kesanggupan mengembalikan dana pinjaman setelah nantinya nota kesepahaman (MoU) diteken.
"Persiapan pembangunan MRT tidak harus disyaratkan oleh JICA selesai 19 Agustus. Mereka hanya konfirmasi saja. Apakah seluruh pihak yang ikut terlibat dan bertanggung jawab telah siap atau belum," ujar Dirut PT MRT Tribudi Rahardjo.
Seperti pembebasan lahan, saat JICA datang ke Jakarta, pihak yang bertanggungjawab membebaskan lahan akan ditanya apakah sanggup menyelesaikan pembebasan tepat pada waktunya atau belum. Lalu dengan perkiraan jumlah penumpang sangat terkait dengan kemampuan mengembalikan pinjaman, jalur MRT tahap I Blok M-Bundaran Indonesia diperkirakan mampu mengangkut 412 ribu penumpang per hari. Hal itu sesuai studi kelayakan sebelumnya.
Diakuinya Tribudi, kendala dalam pembangunan MRT memang terkait pembebasan lahan. Mengingat ada saja pihak-pihak yang belum bersedia merelakan lahannya dipakai untuk pembangunan proyek angkutan berbasis rel itu. Untuk tahap I Blok M-Bundaraan Hotel Indonesia, pembebasan lahan rata-rata menyisir sepanjang jalur. Kebutuhan lahan untuk MRT sekitar 14,3 km atau sekitar 2 hektare yang terdiri dari 187 bidang.
|