|
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) sepanjang semester I-2010 menembus US$ 4,25 miliar. Angka itu meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 4,01 miliar.
Ketua Umum API Ade Sudrajat menjelaskan, porsi ekspor TPT nasional sebesar 40% umumnya terjadi pada semester II. "Berdasarkan data sementara, ekspor TPT nasional semester I naik 6%. Lonjakan ekspor akan terjadi tiga bulan sebelumn akhir tahun, karena adanya kenaikan permintaan di musim panas dan menjelang Natal," paparnya.
Menurut dia, dengan capaian semester I, ekspor TPT nasional pada tahun ini diprediksi mencapai US$ 11 miliar atau melonjak 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tahun lalu, ekspor TPT nasional hanya mencapai US$ 9,4 miliar atau turun 6,37% jika dibandingkan dengan target semula US$ 10,04 miliar.
Dia menjelakkan, ekspor TPT nasional pada semester I-2010 meningkat didorong order Piala Dunia di Afrika Selatan. "Momen Piala Dunia cukup membantu eksportir TPT nasional," paparnya.
Kinerja ekspor TPT selama lima tahun terakhir cenderung melambat. Pada 2000, ekspor TPT Indonesia mencapai US$ 8,3 miliar dan sampai dengan 2009 hanya meningkat 11,59%. Jumlah ini mencetak peningkatan rata-rata 3,14% per tahun, atau setara dengan nilai ekspor US$ 9,26 miliar.
"Pertumbuhan ini relatif stagnan. Ini merupakan dampak dari kompleksitas berbagai masalah dan hambatan yang dihadapi industri TPT. Masalah itu antara lain munculnya pesaing baru yang menggunakan teknologi canggih. Misalnya, Vietnam, Bangladesh, dan Thailand," papaar dia.
Karena itu, pemerintah memberikan subsidi Rp 648 miliar untuk pembiayaan restrukturisasi mesin industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sepanjang 2007-2010. Sejak 2007 hingga 2009, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyalurkan dana untuk program restrukturisasi itu sebesar Rp 504 miliar, sementara untuk periode 2010 alokasi dana bantuan sebesar Rp 144 miliar. |