|
PT Pertamina (Persero) siap mengambil standby loan sebesar US$ 250 juta jika konsumsi bahan bakar minyak (BBM) melampaui kuota APBNP 2010 sebesar 36,5 juta kiloliter (KL).
"Berdasarkan kajian yang kami lakukan, tahun ini konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan melebihi kuota. Dari kuota 36,5 juta KL melonjak menjadi sekitar 40 juta KL. Kalau itu terjadi kami akan manfaatkan pinjaman itu," kata Direktur Keuangan Pertamina M Afdal Bahaudin.
Pinjaman tersebut, menurut Afdal, harus diambil karena Pertamina membutuhkan dana untuk menalangi subsidi BBM dari pemerintah. Mengingat dana subsidi dikucurkan pemerintah melalui mekanisme reimburse.
"Tetapi kepastian pinjaman itu baru kita ambil jika memang konsumsi BBM bersubsidi melebihi kuota. Serta kalau terms and condition pinjaman dengan sindikasi perbankan itu masih sama dengan yang dulu. Ambil standby loan itu lebih efektif daripada kami harus mencari lagi," tegasnya.
Afdal menambahkan, saat ini perseroan masih memiliki standby loan sebesar US$ 250 juta dari 18 perbankan dalam dan luar negeri yang dikucurkan pada 31 Juli 2009 lalu. Nilainya mencapai Rp 3 triliun dan US$ 400 juta.
Untuk porsi rupiah, pinjaman diberikan oleh empat bank dalam negeri yaitu BNI, BRI, BCA dan Bank Mandiri selaku coordinating lead arranger. Perinciannya, sebesar Rp 1,25 triliun dari Bank Mandiri, BNI sebesar Rp 750 miliar, BRI Rp 500 miliar, dan BCA Rp 500 miliar.
Sementara untuk pinjaman valas sebesar US$ 400 juta diperoleh Pertamina dari 16 bank dengan tenor 3 tahun. 16 bank tersebut adalah Citibank, PT ANZ Panin Bank, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd., BNP Paribas, BRI, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, BCA, Overseas-Chinese Banking Corporation Limited, PT Bank Mizuho Indonesia, PT Bank Pan Indonesia Tbk, The Hongkong and Shanghai Banking Corporate Limited, Chinatrust Commercial Bank Co. Ltd., Calyon, CIMB Bank Berhad, Natixis, dan Qatar National Bank SAQ.
Standby loan sebesar US$ 250 juta diperoleh karena Pertamina mengalami oversubscribe. "Proses mencari pinjaman ini dimulai sejak akhir Maret 2009. Awalnya Pertamina hanya mencari US$ 300 juta dan Rp 3 triliun. Lalu mengalami oversubsribe untuk dolar sebesar US$ 650 juta, dan untuk rupiah sebesar Rp 4,5 triliun. Pertamina memutuskan pada tahap ini untuk hanya mengambil pinjaman sebesar US$ 400 juta dan Rp 3 triliun dengan tenor 3 tahun," kata Ferederick Siahaan yang waktu itu masih menjabat sebagai Direktur Keuangan Pertamina.
|