|
PT Sarinah (Persero) rupanya tidak main-main melebarkan sayap bisnis di sektor komoditi kakao. "Kami akan langsung membeli kakao dari petani di Sulawesi Tengah," kata Direktur Utama PT Sarinah, Jimmy Rifai Ghani.
Untuk pembelian kakao yang dimulai pekan ini, Sarinah melibatkan Indonesia Exim Bank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebagai penyandang dana. "Untuk tahap awal, per bulannya bisa kami akan membeli sekitar 5.000 ton kakao senilai Ro 120 miliar," kata Jimmy.
Untuk sementara, Sarinah akan menjual kakao tersebut kepada PT Bumi Tangerang Mesindotama (BT Cocoa), perusahaan pengelolaan kakao di Tangerang. Tapi kelak, jika rencana pembangunan pabrik coklat sudah terealisasi, Sarinah akan memproduksi coklat sendiri.
Realisasi menggeluti bisnis kakao ini sejatinya merupakan langkah Sarinah beralih dari bisnis minuman beralkohol yang mulai sepi pasca dilepasnya monopoli impor minuman beralkohol.
Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar menyatakan, kerjasama yang dilakukan Sarinah dengan Petani dan Indonesia Exim Bank tersebut merupakan langkah baru Sarinah dalam ekspansi bisnisnya. Dia berharap langsung Sarinah ini mampu meningkatkan daya saing produk kakao dan mampu menumbuhkan industri pengolahan kakao nasional.
Saat ini, Indonesia adalah negara produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Meski demikian, produk kakao Indonesia memiliki keunggulan dibanding dua negara tersebut, yakni dari sisi kualitas yang tidak mudah meleleh. "Ini karakter kakao yang tidak dimiliki negara lain," kata Mahendra.
Menurut Jimmy, potensi bisnis pengolahan kakao kian besar setelah pemerintah mengenakan bea keluar (BK) ekspor bijih kakao sebesar 10% pada April lalu. Ini membuat petani kakao enggan mengekspor lantaran margin kian tipis. |