|
Proyek pengolahan (refinery) bahan baku oleokimia yang direncanakan Kementerian Perindustrian berjalan mulus. Untuk tahap awal, pemerintah menggaet komitmen pasokan minyak mentah dari Iran untuk pabrik di Banten.
Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan, pemerintah Iran berjanji memasok minyak mentah sebanyak 300.000 barel per hari. Dengan demikian, satu dari tiga refinery akan segera dibangun untuk memenuhi kebutuhan nafta. Nafta adalah bahan baku industri oleokimia yang sebagian besar masih di impor. Selama ini, kebutuhan nafta Indonesia mencapai 2,7 juta ton per tahun.
Sekitar empat tahun silam, Iran telah menyepakati perjanjian pembangunan refinery ini dengan PT Pertamina. "Indonesia akan menyiapkan tanah sedangkan modal patungan berbagai pihak," kata Hidayat. Menurut dia, pembangunan refinery ini sangat penting bagi Indonesia. Selain nafta, pabrik ini juga bisa memproduksi bahan bakar minyak yang dibutuhkan Pertamina.
Sebelumnya, Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Alexander Barus mengatakan, hingga tahun 2014, Indonesia akan memiliki tiga refinery baru untuk menyuplai kebutuhan nafta dalam negeri. Lokasinya di Cilegon, Banten; Bontang Kalimantan Timur dan Tuban, awal Timur. Kapasitas produksi setiap refinery ini 600.000 ton per tahun dengan nilai investasi US$ 4 miliar per unit. |