|
Group Lenzing AG Austria menjadikan Indonesia sebagai basis produksi serat rayon terbesar di dunia, di luar Austria, menyusul pengoperasian lini keempat pabriknya di Purwakarta, Jawa Barat.
Lenzing membenamkan modal US$ 150 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun di PT South Pacific Viscose Indonesia (SPV), anak perusahaannya yang beroperasi sejak 1982 di Indonesia. Ekspansi itu merupakan investasi Lenzing terbesar di dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Pabrik serat rayon (viscose fibre) untuk tekstil dan bukan tenunan (nonwoven) itu dilengkapi dengan fasilitas pendukung, yakni pembangkit tenaga listrik 12 megawatt (MW), pabrik asam sulfat berkapasitas 300 ton per hari, dan pabrik karbon disulfida (CS2) berbahan baku gas alam ramah lingkungan.
Tambahan lini produksi itu mampu memproduksi 60.000 ton serat rayon per tahun sehingga total kapasitas SPV menjadi 220.000 ton per tahun. Ekspansi ini menjadikan SPV sebagai produsen serat rayon terbesar di Asia dan terbesar kedua di dunia, setelah perusahaan induk di Lenzing, Austria, yang berkapasitas 255.000 ton per tahun.
Kepala Dewan Lenzing Peter Untersperger mengungkapkan Indonesia sangat penting bagi perseroan karena pasar lokal tumbuh 15% setiap tahun, di samping strategis, sebagai basis ekspor.
"Indonesia merupakan negara yang atraktif dan memberikan peluang usaha bagi kami. Investasi ini menandakan komitmen kami kepada Indonesia dan seluruh Asia," katanya.
Menurut dia, ekspansi di Indonesia sejalan dengan rencana jangka panjang perseroan yang akan fokus di pasar Asia. "Asia akan menjadi pasar serat sintetis terbesar di dunia dengan pangsa 62% pada 2015," ujarnya.
Setelah seluruh proyek investasi rampung pada 2012, lanjut Peter, separuh dari kapasitas produksi serat Lenzing Group atau sekitar 378.000 ton akan berlokasi di Asia. "Kami menargetkan produksi 1 juta ton yang ditandai dengan ekspansi ini dan nanti lebih dari setengah produksi serat selulosa kami akan dilakukan di Asia," tambahnya. |