|
Penundaan kedatangan Perdana Menteri (PM) China Wen Jiabao ke Indonesia berbuntut panjang. Nasib kerjasama antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan Hangzhou Jinjiang Group (HJG) untuk membangun pabrik smelter grade alumina (SGA) di Mempawah, Kalimantan, Barat, tidak jelas.
Padahal, ANTM dan Hangzhou merencanakan penandatanganan kerjasama tersebut disaksikan PM China, yang semula akan berkunjung ke Indonesia 23-24 April mendatang. Meski begitu, manajemen ANTM meyakinkan kesepakatan itu tetap berlanjut.
"Kerjasama dengan pihak China jalan terus, kami masih melanjutkan perundingan," ujar Direktur Utama ANTM Alwin Syah Loebis.
Alwin mengungkapkan, nilai investasi pembangunan pabrik SGA di Mempawah mencapai US$ 900 juta. Pabrik yang akan mengolah bauksit menjadi alumia tersebut akan memiliki kapasitas produksi 1 juta per tahun.
Tapi, awalnya masih enggan menyebutkan komposisi kepemilikan saham antara Hangzhou dan ANTM di perusahaan patungan yang akan menggarap proyek itu. Yang jelas, jika perjanjian kerjasama itu bisa bisa diteken akhir bulan ini, mereka tinggal memikirkan pendanaan proyek.
Sekedar catatan, saat ini ANTM tengah merencanakan dua proyek pengolahan bauksit di Kalimantan Barat, yaitu SGA Mempawah dan chemical grade alumina (CGA) di Tayan.
Sekretaris Perusahaan ANTM Bimo Budi Satriyo mengatakan, mereka masih memprioritaskan proyek CGA Tayan yang sudah lebih dulu direncanakan. ANTM telah melakukan tender ulang mitra barunya dan hasilnya akan segera diumumkan.
Sebelumnya, perusahaan alumunium asal Rusi, yakni Rusi Alumunium (Rusal), tidak bisa memastikan keikutsertaannya dalam proyek senilai US$ 400 juta tersebut. "Belum ada keputusan soal tender, karena ada beberapa hal yang butuh diklarifikasi," ujar Bimo.
Saat ini, ANTM juga tengah melakukan kajian untuk membangun smelter pengolahan biji nikel menjadi feronikel yang berlokasi di Halmahera, Maluku Utara. Bimo bilang, berdasarkan hasil studi, nilai investasi proyek itu mencapai US$ 1,2 miliar.
Pabrik yang akan dibangun ANTM itu direncanakan memiliki kapasitas produksi 27.000 ton nikel per tahun. Hingga saat ini mereka masih mencari investor yang mau bekerjasama untuk menggarap proyek itu. Bimo menegaskan, belum ada rencana investor asal China masuk ke proyek tersebut. |