|
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) tahun ini membutuhkan pinjaman sekitar Rp 6-7 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja dan menyelesaikan beberapa utang yang jatuh tempo.
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan, dana pinjaman sebanyak Rp 4 triliun siap dipenuhi oleh empat bank lokal dan Rp 2 triliun dari penerbitan obligasi. "Kebutuhan dana eksternal group Telkom tahun ini memang mencapai kisaran Rp 6-7 triliun, namun kami sudah memastikan dana akan dipenuhi dari mana," ujar Rinaldi.
Menurut dia, empat bank yang siap memenuhi kebutuhan dana Telkom adalah Bank BRI, BNI, Bank Mandiri, dan Bank Jabar Banten. BNI dan BRI juga telah menyanggupi penyediaan alokasi kredit paling banyak. Tapi, sejauh ini belum diketahui komposisi pinjaman dari masing-masing bank tersebut.
Sementara itu, Telkom juga mulai mempersiapkan penerbitan obligasi senilai Rp 2 triliun pada semester I-2010. "Kami sudah seleksi tiga pinjaman emisi (underwriter) untuk penerbitannya," tutur dia.
Dia belum mau menyebut underwriter yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN). Namun diperkirakan, ketiganya adalah PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas.
Dana tersebut akan digunakan untuk menambah belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan, yang tahun ini diperkirakan US$ 2 miliar (sekitar Rp 19 triliun). Selain itu, perseroan berencana menurunkan porsi utang perseroan dalam mata uang dolar As. Saat ini, porsi utang perusahaan dalam dolar AS sudah berkurang lebih dari 50% menjadi Rp 5 triliun. Total utang perseroan hingga akhir 2009 mencapai Rp 14 triliun.
Sedangkan salah satu proyek Telkom yang akan digarap hingga 2011 adalah satelit III. Kebutuhan dana untuk proyek itu mencapai US$ 160 juta. Namun, jumlah investasinya diperkirakan meningkat, menyusul adanya biaya asuransi yang harus ditanggung.
"Kebutuhan dana itu nantinya juga bisa masuk pada capex 2011," imbuh Rinaldi. |