|
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melalui anak usahanya, PT Bakrie Energy International, berencana membangun pabrik petrokimia senilai US$ 300 juta atau setara Rp 3 triliun. Perseroan akan menggunakan kombinasi ekuitas dan pinjaman bank untuk mendanai pembangunan pabrik tersebut.
"Dalam enam tahun ke depan, kami butuh investasi cukup besar untuk mengembangkan industri petrokimia. Pada tahap awal kami siapkan US$ 300 juta," kata Direktur Keuangan Bakrie Energy Yuanita Rohali. Yuanita menambahkan, pihaknya tengah menyusun struktur finansial dalam rangka pembiayaan proyek tersebut. Perseroan telah bertemu manajemen empat bank asal Eropa Barat untuk penjajakan pinjaman. Bakrie Energy juga akan mengudang mitra strategis. "Sudah ada calon investor strategis yang berminat, diantaranya dari Jerman, Korea, dan Timur Tengah," tuturnya.
Bakrie Energy, menurut dia, membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan untuk menyiapkan studi kelayakan. Pabrik petrokimia yang diperkirakan mulai dibangun pada 2011 itu akan menghasilkan beberapa produk, seperti gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), pupuk, dan amonia. "Kami masih mencari lokasi yang tepat untuk pabrik tersebut," ucapnya.
Yuanita menegaskan, Bakrie ingin menjadi salah satu pemain besar industri kimia di dalam negeri. Itu sebabnya, Bakrie & Brothers Energy International, guna lebih mengembangkan investasi di bidang energi. Perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut memiliki tiga anak usaha, yaitu PT Bakrie Petro International, PT Bakrie Agro Commodity International, dan PT Bakrie Amonia International.
Dia menjelaskan, arah bisnis Bakrie Energy lebih ke usaha perdagangan (trading) dan pabrikan (manufacturing) yang bisa menjadi salah satu sumber pendapatan Bakrie & Brothers.
"Kami akan membuat industrial complec chemical business di bawah Bakrie Kimia yang bergerak di bidang produk kimia, produk perminyakaan, komoditas agro, dan perdagangan," ujarnya.
Menurut Yuanita Rohali, Bakrie Energy memulai bisnis komoditas sejak Desember 2009 dengan membeli komoditas kimia dari domestik dan asing masing-masing 50%.
Perseroan menargetkan pendapatan US$ 160 juta per tahun dari bisnis kimia. Proyek kimia tersebut diharapkan mulai beroperasi dalam 2,5 tahun mendatang. "Tradingnya bisa mencapai US$ 500-600 juta tahun ini," tandasnya.
|