|
Pemerintah gencar menawarkan proyek pembangunan infrastruktur berskema kemitraan pemerintah dan swasta (public private partnership/PPP) kepada pemodal China karena dianggap paling potensial mendapatkan dana segar dari negeri tersebut.
Dedy S. Priatna, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, menanggapi rencana sebuah perusahaan investasi asal China, China International Corporation (CIC), yang dalam periode 5 tahun ke depan akan menanamkan modalnya sebesar US$ 10 miliar dalam bentuk investasi dan US$ 15 miliar berupa pinjaman lunak.
Dalam proyek PPP, Dedy mengungkapkan, salah satu proyek yang diminati oleh China adalah PLTU di Pemalang, Jawa Tengah, berkapasitas hingga 2.000 MW. Proyek dengan nilai lebih dari US$ 2 miliar itu tinggal menunggu jadwal tender karena tahapan prakualifikasi sudah dilalui, dengan menyisakan tujuh investor.
"Nanti pada 19 Maret 2010 juga akan ada tender lagi untuk rel kereta api batu bara di Kalimantan Tengah. Yang berminat ada dari China, Rusia, Jepang, Korea. Dengan menggunakan skema PPP, secara umum kita harap penyediaan infrastruktur bagi masyarakat dapat semakin meningkat.
Data Bappenas menunjukkan pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur senilai Rp 511,02 triliun untuk periode 2010-2014, atau meningkat lebih dari dua kali lipat dari periode 2005-2009 sebesar Rp 221,929 triliun. |