|
(Pontianak) Investor Malaysia kini mengincar 300 ribu hektare (ha) lahan di Kalimantan Barat (Kalbar) untuk memperluas kebun sawitnya di Indonesia.
"Kalau ada lahannya, investor Malaysia berminat mengembangkan perkebunan sawit dan pabrik pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Kalbar. Investor kami ingin investasi perkebunan seluas 100 ribu hingga 300 ribu ha di provinsi ini," kata Konsul Malaysia Mohamad Zairi Bin Mohamad Basri.
Ia menjelaskan, investor Malaysia sangat berniat untuk mengembangkan perkebunan di Kalbar karena dekat dengan negerinya. Selain itu, modal yang di keluarkan tidak terlalu besar dibanding berinvestasi di negara lain.
"Selain murah investasinya, Kalbar masih berada di satu pulau dengan Malaysia. Dengan demikian, biaya angkut CPO ke negara kami tidak terlalu mahal," paparnya.
Zairi menambahkan, saat ini, beberapa perusahaan besar Malaysia sudah mengembangkan kebun sawit di Kalbar. "Ada pula beberapa perusahaan telah panen kebun sawitnya," ujar Zairi.
Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti luas kebun sawit yang telah dikembangkan investor Malaysia di Indonesia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsyad mengatakan, pengusaha perkebunan Malaysia menguasai lebih dari seperempat lahan sawit di Tanah Air. "Paling sedikit ada 169 perusahaan asal Malaysia beroperasi di Indonesia. Lahan yang dikuasai investor Malaysia tersebut hampir mencapai 2 juta ha dari total 7,2 juta ha kebun sawit di negeri ini," paparnya.
Menurut dia, kondisi itu tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah RI, yang menargetkan kebun sawit nasional mencapai 10 juta ha tahun 2020 dengan petani kecil sebagai pemilik utama. "Hal ini tidak sesuai dengan keinginan pemerintah. Pemerintah berencana mengembangkan 10 juta ha kebun sawit nasional tahun 2020, dengan petani sebagai pemangku kepentingan (stakeholder) utama, bukan perusahaan swasta apalagi swasta asing," tandasnya.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara (Sumut) Laksamana Adhyaksa menambahkan, penguasaan kebun sawit yang besar oleh pengusaha Malaysia rentan menimbulkan persoalan sosial. |