LOGIN USER TENDER
Thousands of Tender Information
(Members only)
User Id :
Password :
Verification :
 
 

 

 

 
 
NEWS SEKTOR LAIN:
Keuangan
  PDAM Maros dapat dana Rp 125 Miliar
Infrastructure
  Revitalisasi pasar tradisional butuh Rp 100 Triliun
Electricity
  PLN butuh Rp 93,6 Triliun untuk proyek 10.000 MW
Electricity
  Daewoo Engineering menangkan tender PLTA dari PLN senilai Rp 2,5 Triliun
Electricity
  Konstruksi PLTU akhir 2010
 
 

 

 
 




BREAKING NEWS
Wed, 16/09/2009
Pertamina nilai Exxon gagal kelola Cepu
Oil & gas

PT Pertamina EP Cepu menyatakan bahwa Mobil Cepu Ltd (MCL), anak usaha ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI), gagal memenuhi kewajiban selama 3,5 tahun sebagai operator di Blok Cepu.

Untuk menghindari bertambah besarnya ketidakefisienan bagi negara dalam pengelolaan Blok Cepu, Pertamina mengusulkan kepada Badan Pelaksana dan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) segera meninjau kembali kemampuan MCL sebagai operator MCL di Lapangan Banyu Urip.

"Apabila hal ini belum dapat dilakukan, kami berharap BP Migas dapat membantu dan memfasilitasi amendemen joint operating agreement (JOA) sesuai prinsip-prinsip kerja sama yang berimbang," ujar Pejabat Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Kunto Wibisiono.

Kontrak kerja sama (KKS) Blok Cepu diteken antara BP Migas dan PT Pertamina EP Cepu pada 17 September 2005. Pertamina dan MCL memiliki porsi saham yang sama, yaitu 45% di blok tersebut. Sisanya dibagi empat daerah tingkat dua, yaitu Pemkab Bojonegoro, Pemprov Jawa Timur, Pemkab Blora, dan Pemprov Jawa Tengah. MCL kemudian ditetapkan sebagai operator blok tersebut.

Pertamina menyebutkan MCL gagal mengembangkan blok tersebut sesuai target dan telah melakukan inefisiensi biaya. Dari rencana pengembangan (plan of development/PoD) yang disetujui pada 2006, nilai proyek tersebut sekitar US$ 2,3 miliar. Namun, berdasarkan usulan pembiayaan (authorization for expenditure/AFE) untuk konstruksi proyek (engineering procurement and construction/FPC) tahap 1-5, nilai proyek tersebut saat ini membengkak hingga US$ 5,2 miliar.

Selain itu, lanjut Kunto dalam suratnya, belanja (expenditure) KKKS sudah mencapai US$ 570 juta per Agustus 2009. Di sisi lain, untuk kemajuan pembangunan fisik baru senilai US$ 200 juta untuk tiga sumur eksplorasi, dan biaya penyelesaian sumur. Adapun sisa expenditure lain sekitar US$ 250 juta untuk biaya personnel expenses. "Biaya bulanan KKS akhir-akhir ini yang sebesar US$ 15-18 juta umumnya hanya untuk biaya general affairs," ujarnya.

Kunto juga mengungkapkan, target produksi penuh (full field) Blok Cepu sebanyak 165 ribu barel per hari (bph) yang semula dimulai Oktober 2009 menjadi Februari MCL hingga 8 September 2009 pun masih jauh dari yang diharapkan. Total produksi hanya 21.480 barel (rata-rata hanya 3 ribu bph). Dari target laju alir 5 ribu bph, saat ini dapat direalisasikan sebesar 4.419 bph.

"MCL juga mengklaim expenditure saat periode technical assistance contract sekitar US$ 370 juta yang sampai saat ini belum diaudit sesuai dengan KKS," ujar dia.

Menurut Kunto, salah satu penyebab kurang moncernya kinerja MCL sebagai operator Cepu karena kurangnya peran Pertamina terkait implementasikan JOA dan Cepu Organization Agreement (COA). MCL dinilai memilih hak yang sangat luas untuk mengoperasikan Blok Cepu, namun tidak berhasil untuk mempersiapkan produksi minyak secara penuh pada awal 2010.

"Karena itu, kami berharap BP Migas melakukan audit atas prior cost MCL mengingat besaran prior cost tersebut sangat berpengaruh terhadap nilai keekonomian kami sebagai partner," ujarnya.

Secara terpisah, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Dito Ganinduto mengakui DPR memperoleh salinan surat Pertamina yang ditujukan kepada BP Migas. Dia berharap, BP Migas segera merespons dan mengaudit biaya yang sudah dikeluarkan MCL di Blok Cepu.

"Pembengkakan biaya yang tidak sesuai dengan PoD 2006 itu tidak sebanding dengan produksi minyak di lapangan tersebut. BP Migas mesti jeli, agar biaya yang tidak efisien itu tidak diganti negara (cost recovery)," ujarnya.

Dito menambahkan, produksi minyak di Blok Cepu saat ini kurang dari 5 ribu bph. Namun, MCL menjamin bahwa pada Oktober mendatang, produksi minyak di blok tersebut bisa mencapai 15 ribu bph. Namun, melihat perkembangan pembangunan dan kesiapan fasilitas produksi, target produksi 15 ribu bph itu bakal molor lagi.

Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Demokrat Sutan Bhatoegana mengatakan, ada dua opsi yang ditujukan kepada EMOI sebagai induk MCL, yaitu penggantian operator atau revisi kerja sama operator (JOA). Hal ini bertujuan agar Pertamina lebih berperan. "Tapi, untuk menentukan itu tidak bisa sembarangan," ujar Sutan.
 
NEWS SEKTOR OIL & GAS LAINNYA :


INFO TENDER RELATED :
Jumlah Total Tender (16-04-2014) : 125
JUDUL TENDER (16-04-2014) :
Dapatkan ribuan informasi detail tender lainnya ...
 

 
All Rights Reserved Copyright 2012 PT. Tender Indonesia Commercial, design by AbelPutra.com