|
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) ditawarkan banyak pekerjaan pengoperasian dan pemeliharaan (operation and maintenance) pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) di Irak.
Jarman, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM mengatakan Irak kini baru kembali membangun pambangkit listrik setelah banyak yang rusak karena perang.
"Gara-gara perang banyak pembangkit yang rusak, kira-kira tinggal 25%. Sekarang mereka install pembangkit baru. Tentu perlu orang-orang untuk mengoperasikan. Intinya Irak membuka peluang kerja sama dan kita punya expertise di bidang O&M PLTG," ujarnya.
Menurut Jarman, kapasitas pembangkit listrik di Irak pasca perang sekitar 2.300 MW. Oleh karena itu, saat ini Irak sedang membangun pembangkit listrik baru hingga berkapasitas 9.000 MW dan ini merupakan peluang kerja sama yang besar bagi PLN.
Sebelumnya, PLN melalui anak perusahaannya diketahui sudah berpengalaman di negara lain seperti Arab Saudi.
Sementara itu, di dalam negeri, PLN mengoperasikan pembangkit lebih dari 30.000 MW yang terdiri dari bermacam-macam pembangkit, termasuk PLTG.
"Kalau di bidang konstruksi, PLN kan sedang bangun pembangkit banyak di sini. Di bidang PLTG, PLN sudah punya pengalaman. BUMN itu juga sekarang mengoperasikan pembangkit lebih dari 30.000 MW dan sebagian itu adalah PLTG," jelas Jarman.
Namun pembicaraan kerja sama ini masih sangat awal. Jarman belum bisa memperkirakan nilai kontrak O&M antara PLN dan Irak. Menurutnya, lama periode kontrak sendiri bermacam-macam, bisa 3-5 tahun.
Sementara itu Direktur Utama PLN Nur Pamudji membenarkan PLN ditawarkan pekerjaan pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit listrik di Irak.
Dalam rangka menggarap peluang bisnis di Irak, PT Pertamina (Persero) mengaku siap menjadi lokomotif bagi program Indonesia Incorporated yang akan memberikan dukungan bagi proses rekonstruksi sekaligus menciptakan peluang bagi perluasan usaha dan investasi BUMN di Irak.
Untuk mendapatkan info detail ratusan proyek setiap hari, anda dapat mendaftar menjadi member (PREMIUM dan GOLD).
|