|
Kementerian Perhubungan akan memberi stimulan agar pemerintah daerah di seluruh kota besar di Tanah Air mau menerapkan moda transportasi Bus Rapid Transit. Hal ini seiring semakin berkurangnya pengguna angkutan umum rata-rata 1% per tahun sehingga menyebabkan kemacetan.
Bahkan pengguna angkutan umum di Jakarta turun sampai 3% per tahun.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan penurunan pengguna angkutan umum ini karena peningkatan kepemilikan kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil seiring meningkatnya jumlah kalangan menengah ke atas.
"Semua kota besar dan metropolitan dengan jumlah penduduk di atas 1 juta dalam waktu dekat harus menerapkan konsep moda transportasi Bus Rapid Transit (BRT) seperti Trans Jakarta," kata Bambang.
Wamenhub mengatakan pemerintah pusat harus punya stimulan, yakni menyiapkan armada BRT. "Sekarang sudah ada 17 kota yang menerapkan bus trans, ini sebagai solusi jangka pendek sambil menyiapkan jangka panjangnya seperti trem, sub way yang tentunya perlu investasi mahal. Ini perlu kesadaran semua pemerintah daerah, mulailah yang berbasis bus," tutur Bambang.
Menurut Bambang, nantinya seluruh kota besar dan metropolitan di Indonesia diminta menerapkan pola BRT. Saat ini ada beberapa kota yang menjadi kota contoh, yakni Yogyakarta, Solo, dan Palembang. Bahkan di Palembang sudah terintegrasi moda angkutan bus, kereta api, dan angkutan sungai.
"Butuh konsistensi implementasi kebijakan untuk mewujudkannya dilapangan, butuh waktu. Terutama untuk kota besar tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersama-sama dengan kota-kota sekitarnya, maka pola pergerakan akan sangat memengaruhi," imbuh Wamenhub.
Dia menyebutkan Kemenhub juga akan mengembangkan moda transportasi berbasis rel di perkotaan dimulai dengan kereta api bandara seperti di Medan, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta. Di Medan ditarget mulai beroperasi awal 2014, Yogyakarta sudah berjalan.
Untuk mendapatkan info detail ratusan proyek setiap hari, anda dapat mendaftar menjadi member (PREMIUM dan GOLD).
|