|
PT Perusahaan Listrik Negara menyatakan telah menerima sekitar 16 proposal rencana pengajuan penyediaan listrik untuk pembangunan smelter. Adapun saat ini PLN baru menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan dua perusahaan.
Benny Marbun, Kepala Divisi Niaga PLN mengatakan bahwa dari 16 proposal yang diajukan tersebut baru dua yang melakukan penandatanganan Mou, yakni PT Bosowa Metal Industri dan PT Bumi Modern Sejahtera.
"Yang sudah MoU itu Bosowa dan Modern, sisanya yang masih dalam proses salah satunya ada PT Antam," kata Benny.
Ditanya perusahaan apa saja yang mengajukan proposal, Benny enggan menjawabnya. Yang pasti menurutnya, sebagian besar didominasi oleh perusahaan lokal, namun banyak yang bekerja sama dengan perusahaan asing.
Menurut Benny, pihaknya siap menyediakan listrik dimana pun sesuai dengan permintaan. Pihaknya akan menyediakan listrik untuk mereka yang ingin membangun smelter, dekat ataupun jauh dengan jaringan/sistem yang dimiliki PLN.
"Kita siap memasok, di mana saja, di gunung juga tidak masalah, tapi resikonya kalau minta di tempat yang sulit, maka harus dibangun pembangkit yang baru, kalau mereka mau cepat juga bisa, pakai diesel, cuma harganya lebih mahal," jelasnya.
Sedangkan kalau membangun smelter dekat dengan jaringan/sistem PLN, listriknya bisa dipasok dari sistem yang sudah ada milik PLN sehingga harganya tidak terlalu mahal.
Adapun jika listriknya bukan dari PLN, perusahaan tersebut tetap harus membangun pembangkit. Jika ingin cepat, tetap harus menggunakan diesel.
"Nah kalau mereka mau mendekat ke kita seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, harga tidak jauh," ujarnya.
Menurut Benny, rata-rata kebutuhan satu pabrik itu sekitar 40 MW hingga 200 MW.
Untuk mendapatkan info detail ratusan proyek setiap hari, anda dapat mendaftar menjadi member (PREMIUM dan GOLD).
|