|
PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) merencanakan investasi senilai 5,6 miliar dolar AS sampai 2014. Anggaran itu untuk merevitalisasi pabrik pupuk urea dan konversi pemakaian gas ke batubara, guna mendukung ketahanan pangan dan energi.
"Kami perlu melakukan revitalisasi pabrik, karena banyak pabrik pupuk urea yang usia mencapai di atas 20 tahun, di samping untuk efisiensi," kata Dirut PIHC Arifin Tasrif.
Arifin Tasrif mencontohkan ada pabrik PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Palembang yang berusia 38 tahun (berdiri tahun 1974) masih beroperasi dengan konsumsi gas sebesar 35 mmbtu/ton. Padahal pabrik baru hanya mengonsumsi gas sebesar 25 mmbtu/ton.
Oleh karena itu, pihaknya berencana membangun pabrik pupuk Pusri 2B yang kini dalam persiapan tender.
PIHC juga berencana membangun pabrik baru untuk pupuk urea di Gresik (PT Petrokimia Gresik) dan Bojonegoro (PT Pupuk Kujang), Jawa Timur. Pabrik itu untuk memenuhi kebutuhan pupuk di Pulau Jawa, yang selama ini dipasok dari PT Pusri Palembang dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).
"Dua pabrik baru tersebut akan mampu menghemat ongkos angkut pupuk, yang mencapai 30 dolar AS/ton, di samping menghemat biaya gas yang mencapai 50 dolar/ton," katanya.
Selama ini, setiap tahun kebutuhan pupuk di Jawa dipasok dari Palembang dan Kaltim sebesar 1,9 juta ton. Dengan demikian biaya angkut yang bisa dihemat mencapai 57 juta dolar AS/ton, katanya.
Selain Jatim dan Sumsel, PIHC juga berencana membangun pabrik pupuk dengan kapasitas dua juta ton di Tangguh, Papua Barat, dengan investasi 1,8 miliar dolar AS. "Pembangunan pabrik baru juga penting untuk mengantisipasi permintaan pupuk yang terus meningkat," katanya.
Untuk mendapatkan info detail ratusan proyek setiap hari, anda dapat mendaftar menjadi member (PREMIUM dan GOLD). |