Konsorsium asal China dan perusahaan nasional akan membangun pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) berkapasitas 50 megawatt (MW) di Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. "Secepatnya ini akan dikembangkan," ujar Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kardaya Warnika.
Kardaya masih enggan menjelaskan secara gamblang perusahaan mana yang akan mengembangkan PLTB tersebut. Pengembangan pembangkit dengan energi terbarukan itu membutuhkan dukungan pemerintah, berupa pemberian insentif. "Kami sudah lakukan itu ke beberapa investor energi terbarukan," katanya.
Menurut Kardaya, insentif diperlukan karena harga pengembangan energi terbarukan relatif mahal. Pemerintah telah berupaya memperbaiki persoalan biaya tersebut. "Kami perbaiki dari yang lama ke harga yang lebih baru," ucap Kardaya.
Selain persoalan insentif, kendala lain dalam pengembangan industri energi terbarukan adalah belum adanya dukungan dari perbankan. "Kita juga perlu dukungan perbankan untuk mendorong energi ini berkembang pesat," ujarnya.
Kardaya menilai energi terbarukan baru bisa dikembangkan di Indonesia dan negara-negara Asia bila harganya bisa bersaing dengan harga bahan bakar minyak (BBM). Pengembangan energi itu sangat bergantung pada berapa persen pengembalian modal yang diperlukan.
"Dari sini bisa ditentukan apakah butuh insentif fiskal, pajak, atau pinjaman lunak," ucapnya. Lemahnya peran energi terbarukan di Indonesia, salah satu faktornya 99% penggunaan energi di negara ini masih didominasi energi fosil.
Untuk mendapatkan info detail ratusan proyek setiap hari, anda dapat mendaftar menjadi member (PREMIUM dan GOLD).