LOGIN USER TENDER
Thousands of Tender Information
(Members only)
User Id :
Password :
Verification :
 
 

 

 

 
 
SEKTOR LAIN:
Infrastructure
  Proyek JSS libatkan BUMN
Info tender
  215 tender proyek
Manufaktur
  3 Produsen berminat garap mobil murah di RI
Agriculture
  Dana Rp 13,4 Miliar untuk revitalisasi pabrik pupuk
Land transportation
  Pemerintah tawarkan tiga proyek transportasi ke China
 
 

 
 
 


BREAKING NEWS
Mon, 27/02/2012
Petronas mundur dari East Natuna
Oil & gas

Petronas dipastikan mundur dari proyek pengembangan gas di East Natuna,  Kepulauan Riau.  Kini,  PT Pertamina (Persero) akan mengelola East Natuna bersama dua mitra sisanya,  yakni Esso Natuna Ltd dan Total E&P Activities Petrolieres.     

Mundurnya Petronas itu dipastikan oleh dua orang direktur Pertamina,  yakni Direktur Hulu Pertamina Muhamad Husen dan Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina M. Afdal Bahaudin.
  

"Ya,  betul.  Petronas mundur.  Alasannya karena proyek itu bukan prioritas mereka," ujar Husen.
   

Di sisi lain,  Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo enggan menanggapi mundurnya perusahaan migas asal Malaysia itu dari East Natuna.
   

Menurutnya,  hal itu sudah merupakan b to b antara Pertamina dan mitra kerjanya. "Itu urusan bisnis mereka," katanya.
    

Sebelumnya pada 19 Agustus 2011,  prinsip-prinsip kesepakatan (Principles of Agreement/PoA) eksplorasi dan eksploitasi wilayah East Natuna sudah ditandatangani.
   

Dengan mundurnya Petronas,  Afdal memberi sinyal akan ada perubahan dalam PoA yang sebelumnya sudah disepakati bersama.  "Tentang PoA akan ditindaklanjuti secara legal," ujar Afdal.
   

PoA dimaksudkan untuk melanjutkan proses menuju persiapan penandatanganan kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) yang dijadwalkan akan diteken pada 28 Oktober 2011.  Namun hingga hari ini,  PSC belum juga ditandatangani.
   

Menurut Evita,  hal itu disebabkan pembahasan syarat dan ketentuan yang belum tuntas baik antara pemerintah dan kontraktor migas,  maupun di antara kontraktor migasnya itu sendiri.  Menurutnya,  terms & condition-nya tidak semudah itu.
   

East Natuna memiliki cadangan sebesar 46 triliun kaki kubik (tcf) dan memiliki kandungan gas CO2 sebesar 71% sehingga pengembangannya memerlukan waktu sekitar 6-10 tahun.  

Artinya,  gasnya baru bisa onstream sekitar 2021-2022.  Mengingat kandungan gas CO2 yang sangat besar di wilayah itu,  Pertamina meminta perlakuan khusus kepada pemerintah.  Menanggapi hal ini,  Evita mengatakan insentifnya hingga saat ini masih diproses.
    

Terkait nilai investasinya,  Husen memperkirakan total investasi pengembangan wilayah East Natuna akan menelan dana lebih dari US$ 20 miliar atau lebih dari Rp 170 triliun.
  

"US$ 20 miliar itu skenario yang paling murah,  itu dengan pipa ke Sumatra atau ke Jawa,  ada juga pipa yang untuk ekspor ke Malaysia.  Itu adalah beberapa skenario yang akan kami bicarakan (dengan para mitra kerja)," ujar Husen.
    

Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.   
 


SEKTOR OIL & GAS LAINNYA :