|
Selain proyek tol, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak mengatakan, KPS juga diterapkan di proyek penyediaan layanan air. Sebab, saat ini, di perkotaan, jaringan air minum baru dapat melayani 49,8% penduduk.
Peluang untuk KPS sangat terbuka mengingat saat ini ada 300 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sebagian di antaranya sudah melakukan pelayanan air minum dengan skema KPS.
Strategi tersebut, untuk menutupi kebutuhan pendanaan infrastruktur di tahun 2012 mencapai Rp 306,1 triliun.
Dari jumlah itu, 30% atau Rp 115,5 triliun dipenuhi APBN, 1 8% Rp 69 triliun dari APBD, 17% atau Rp 68,4 triliun dari BUMN/BUMD, dan 14% atau Rp 53,2 triliun dari swasta, sehingga gapnya 21% Rp 80,5 triliun.
Selain menggenjot bisnis KPS, mereka juga menghimbau agar pelaku konstruksi ekspansi ke pasar luar negeri.
Saat ini, kontraktor lokal baru masuk ke wilayah Timur Tengah, di antaranya ke Aljazair dan Arab Saudi.
Peluang bisnis di negara itu cukup besar, misalnya di Aljazair nilai investasi yang ditawarkan mencapai US$ 150 miliar dan di Arab Saudi US$ 87 miliar.
"Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan a.l jaminan ketepatan waktu pembayaran, bunga pinjaman yang relatif tinggi, serta adanya pembatasan repatriasi keuntungan usaha," katanya.
Dia menambahkan perlu segera diprakarsai pembentukan ‘Indonesia Incorporated’ untuk meningkatkan daya saing dan menghindari persaingan tidak sehat di antara badan usaha asal Indonesia.
Tingginya tingkat pembangunan infrastruktur di Indonesia, tambah Wakil Menteri PU, juga memberikan peluang besar bagi para pelaku bisnis material dan peralatan konstruksi.
Selain itu, investasi infrastruktur merupakan sektor strategis yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.
|