LOGIN USER TENDER
Thousands of Tender Information
(Members only)
User Id :
Password :
Verification :
 
 

 

 

 
 
NEWS SEKTOR LAIN:
Infrastructure
  Enam bank kucurkan Rp 1,73 Triliun biayai proyek jalan tol di Bali
Petrochemical
  Surya Esa, Toyo, dan IKPT teken kontrak US$ 550 Juta
Oil & gas
  Akuisisi blok Masela jadi fokus Energi Mega
Marine transportation
  Pelindo II investasi Rp 105 Miliar untuk TI Priok
Infrastructure
  Belanda siap biayai pembangunan tembok laut Jakarta
 
 

 


 
 




BREAKING NEWS
Thu, 16/02/2012
Kebutuhan kakao dalam negeri 280.000 Ton
Agriculture

Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) memperkirakan tahun ini kebutuhan biji kakao dalam negeri naik sekitar 16,7 persen dari tahun lalu menjadi 280.000 ton karena sejumlah perusahaan pengolah meningkatkan kapasitas produksinya.   

Menurut Sekretaris Eksekutif Askindo Firman Bakri Anom,  pendorong kenaikan kebutuhan biji kakao dalam negeri yang tahun lalu masih 240.000 ton antara lain rencana perusahaan Guan Chong Bhd meningkatkan kapasitas produksi pabriknya di Batam sebesar 60.000 ton per tahun menjadi 120.000 ton.   

Selain itu,  ia memperkirakan,  pabrik pengolahan biji kakao milik PT Barry Callebaut Comextra Indonesia dengan kapasitas giling 28.000 ton biji kakao per tahun di Makassar juga sudah mulai beroperasi tahun 2012.    

"Itu yang direalisasikan tahun ini.  Kalau empat investasi baru,  termasuk ADM (Archer Daniels Midland Company) dan Cargill kan baru rencana, belum tentu direalisasikan tahun ini," katanya.   

Produksi biji kakao dalam negeri,  menurut Firman,  selama 2012 sekitar 500.000 ton atau hanya 50.000 ton lebih banyak dari tahun 2011.    

"Iklim agak membaik,  tapi banyak tanaman yang sudah tua jadi produksinya tidak bisa naik tajam tanpa ada dukungan untuk peremajaan tanaman dan bantuan tenaga ahli untuk memperbaiki teknik budidaya," jelasnya. 

Firman menambahkan,  industri pengolahan biji kakao dalam negeri juga membutuhkan biji kakao jenis lain untuk menghasilkan olahan kakao tertentu yang mau tidak mau harus diimpor dari negara produsen yang lain.  "Untuk menghasilkan cita rasa tertentu dibutuhkan kombinasi dari beberapa jenis kakao," katanya.    

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat,  selama 2011 impor kakao dari berbagai negara termasuk Ghana,  Pantai Gading,  Papua Nugini,  Kamerun dan Kepulauan Solomon sebanyak 19.100 ton.    

Sebagai negara produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana,  saat ini Indonesia sedang mendorong pertumbuhan industri pengolahan biji kakao dalam negeri karena selama ini sebagian besar produksi kakaonya diekspor dalam keadaan mentah.    

Upaya itu antara lain dilakukan dengan mengenakan bea keluar dalam ekspor biji kakao.  Tarif bea keluar dalam ekspor biji kakao ditetapkan secara bertingkat sesuai dengan harga referensi yang ditetapkan berdasarkan harga rata-rata internasional mengacu pada harga rata-rata di New York Board of Trade (NYBOT).    

Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.   
 
NEWS SEKTOR AGRICULTURE LAINNYA :


INFO TENDER RELATED :
Jumlah Total Tender (17-04-2014) : 131
JUDUL TENDER (17-04-2014) :
Dapatkan ribuan informasi detail tender lainnya ...
 

 
All Rights Reserved Copyright 2012 PT. Tender Indonesia Commercial, design by AbelPutra.com