|
Belanda menilai anggaran DKI Jakarta kurang untuk merawat saluran air. "Mereka mengamati anggaran perawatan untuk mengeruk kanal kurang. Akibatnya, kanal tak berfungsi optimal," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Menurut delegasi tersebut, anggaran perawatan harus diperbesar karena kebutuhan perawatan saluran air di Jakarta cukup tinggi. "Sampah yang lama tidak diangkut jadi lumpur, jadi endapan, ini mengurangi kapasitas saluran air," ujar Fauzi. Delegasi yang datang adalah Paula Verhouven, Rences Peters, dan Michele Dexter. Namun, menurut Fauzi, anggaran belanja DKI Jakarta tidak cukup untuk memperbesar alokasi perawatan saluran air. "Yang penting justru menempatkan proporsi yang ideal antara perawatan dan pembangunan penampungan air," katanya. Saat ini pihaknya membutuhkan antara lain waduk di Brigif Bintaro, waduk di Halim, dan waduk di Sunter Hulu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Ery Basworo mengatakan anggaran sumber daya air 2011 hanya sekitar Rp 500 miliar. "Anggaran untuk pembangunan jalan lebih besar ketimbang untuk air," katanya.
Menurut Ery, saat ini pihaknya lebih berfokus membangun tempat penampungan air ketimbang merawat saluran yang sudah ada. Dia mencontohkan Kali Angke yang telah diperlebar dan diturap. "Kalau kayak Angke, sudah dibangun dan diturap, kalau mau dirawat kan gampang, masukin saja alat pengeruk," ujarnya.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menambahkan, rencana pembangunan tanggul raksasa yang dibahas dalam World Delta Summit dapat mengendalikan banjir dengan menampung air dalam kontainer di Teluk Jakarta. "Yang bisa dimanfaatkan sebagai air minum melalui metode desalinasi. Kita upayakan agar harga pengolahan bisa ditekan," katanya.
Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.
|