|
Sedikitnya 18 investor asing berniat menggarap sektor properti di Tanah Air, baik melalui aksi akuisisi maupun kerja sama. Head of Research PT Jones Lang LaSalle Indonesia Anton Sitorus menyatakan sejumlah perusahaan asing itu, terutama berasal dari Amerika Serikat, Korea, Jepang, dan Eropa.
"Ada yang sudah menunjukkan minatnya, baik itu dari perusahaan di AS, Korea, Jepang, dan Eropa. Mekanismenya bisa membuat perusahaan sendiri, melakukan akuisisi atau joint venture," ujarnya.
Meski demikian, Anton mengaku belum mengetahui secara detail kapan ekspansi bisnis perusahaan asing itu dilakukan.
Dia hanya menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan konsultasi dengan pihaknya terkait dengan risiko apa saja jika ingin memasuki industri properti nasional.
Hal senada juga diungkapkan oleh Wilsom Kalip, pimpinan Knigh Frank Indonesia, perusahaan konsultan properti yang berbasis di London, yang menyatakan perusahaan asal Jepang berniat untuk mendirikan sebuah kawasan industri di Indonesia.
"Kami sedang membantu perusahaan tersebut menjajaki pembukaan sebuah kawasan industri. Tapi sayang sekali kami belum dapat mengumumkan perusahaan tersebut," ujarnya. Wilson menjelaskan faktor utama yang menjadi perhatian investor asing, yaitu kestabilan politik, tingkat perekonomian, dan lingkungan sosial.
"Indonesia terutama Jakarta, memenuhi faktor itu dengan mempertimbangkan, pendapatan per kapita, aktivitas pasar modal dan keuangan, pangsa pasar, juga jumlah markas perusahaan multinasional di tiap kota.
Apalagi, Jakarta, sebagai salah satu kota berkembang di Asia, juga berpeluang untuk menjadi kota dunia, yaitu kota yang memiliki peran penting dalam sistem ekonomi global.
Bagi para pengguna via blackberry, info proyek dan detail tender lainnya dapat dilihat di versi web www.tender-indonesia.com.
|